SANGGAU – Sekawanbaru.com – Kemarau panjang mulai membebani warga Kabupaten Sanggau. Di RT 11 Segole, sebanyak 150 kepala keluarga (KK) dilaporkan kesulitan mendapatkan air bersih selama hampir dua bulan setelah sumber air yang selama ini diandalkan warga mengering.
Di tengah kondisi tersebut, Ketua Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Susana Herpena, menyalurkan bantuan 10.000 liter air bersih kepada warga setempat, Jumat (4/9/2026).
Bantuan itu menjadi respons atas keluhan masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Namun, bagi warga, distribusi air bersih saja belum cukup. Mereka berharap ada solusi jangka panjang agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
“Hari ini terima kasih kepada Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Sanggau, kebetulan saya sendiri sebagai ketua. Bagaimana aspirasi masyarakat ini bisa terealisasi. Kemarau panjang ini berdampak pada kekeringan. Warga di Segole ini kesulitan mendapat air bersih. Ada 10.000 liter. Terima kasih kepada GOW. Dari rakyat untuk rakyat,” kata Susana.
15 Kecamatan Berpotensi Terdampak
Susana mengatakan, bantuan air bersih tersebut juga diharapkan menjadi pemantik kepedulian kalangan dunia usaha dan investor di Kabupaten Sanggau untuk turut membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.
Menurutnya, persoalan air bersih tidak hanya terjadi di Segole. Sejumlah wilayah lain, termasuk Sungai Mawang dan Embaong, juga mengalami kesulitan mendapatkan air selama kemarau.
“Artinya 15 kecamatan. Karena di Sungai Mawang dan Embaong juga susah air. Hari ini bukti kepedulian kita,” ungkapnya.
Ia berharap bantuan serupa dapat dilakukan setidaknya sekali dalam sepekan selama musim kemarau, terutama bagi warga yang paling membutuhkan.
Masyarakat, pelaku usaha, maupun pihak lain yang ingin menyalurkan bantuan diminta berkoordinasi dengan Satgas Karhutla. Koordinasi tersebut diperlukan agar distribusi air dapat diarahkan ke titik-titik yang membutuhkan dan penanganannya terdata.
Warga Berharap Pengeboran Air
Ketua RT 11 Segole, Saparinus Heroni, menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang diterima warganya. Ia mengatakan, selama hampir dua bulan, sekitar 150 KK mengalami kesulitan air bersih karena sumber air mengering.
Selama ini, warga mengandalkan sungai, sumur galian, dan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Ketika kemarau berkepanjangan, sumber air tersebut tidak lagi dapat diandalkan seperti biasanya.
Saparinus berharap pemerintah memberikan perhatian lebih melalui pembangunan sarana air bersih yang berkelanjutan, salah satunya dengan melakukan pengeboran air.
“Harapan ke depannya dapat perhatian pemerintah agar bisa dilakukan pengeboran air supaya di kemarau berikutnya masyarakat tidak kesusahan air,” ujar Saparinus.
Harapan warga tersebut menjadi catatan penting di tengah ancaman kemarau berkepanjangan. Penyaluran air bersih memang membantu memenuhi kebutuhan mendesak, tetapi ketersediaan sumber air yang memadai diperlukan agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan setiap kali musim kering tiba.
Selain mengingatkan pentingnya penghematan air, Susana juga meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan selama kondisi kemarau masih berlangsung. Warga diimbau menjaga kesehatan dan meningkatkan komunikasi agar risiko kebakaran hutan dan lahan dapat ditekan.
“Jangan dulu membakar lahan. Ini perlu komunikasi supaya mereka juga menjaga. Tetap jaga kesehatan,” pesannya.
Bagi warga Segole, bantuan 10.000 liter air bersih menjadi penopang di tengah kekeringan. Namun, kebutuhan yang lebih mendasar kini adalah kepastian akses air bersih yang berkelanjutan, sehingga 150 KK tersebut tidak kembali menghadapi kesulitan yang sama pada musim kemarau berikutnya. ( Yai/*)














