PONTIANAK – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu persoalan serius yang disorot Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan dalam rapat kerja bersama para kepala daerah se-Kalbar.
Norsan mengungkapkan berdasarkan pantauan satelit, terdapat 7.569 titik panas di Kalimantan Barat, pada saat memimpin Rapat Kerja bersama Bupati/Wali Kota se-Kalimantan Barat di Aula Garuda Kantor Gubernur Kalbar, Selasa (8/9/2026).
Kabupaten Ketapang menjadi daerah dengan konsentrasi titik panas tertinggi, mencapai 4.086 titik, disusul Kabupaten Kubu Raya 954 titik dan Kayong Utara 619 titik.
Kondisi tersebut turut berdampak terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah.
Per 2 September 2026, kualitas udara di Kubu Raya tercatat dengan PM2.5 mencapai 746, Mempawah 444, dan Kota Pontianak 417. Ketiganya disebut masuk kategori berbahaya.
“Akar dari masalah udara ini terlihat jelas pada sebaran titik panas. Mitigasi lintas sektor mutlak harus kita tingkatkan,” tegas Norsan.
Ia meminta pemerintah kabupaten/kota memperkuat koordinasi dan langkah penanganan karhutla dengan melibatkan seluruh sektor terkait.
Menurut Norsan, penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja. Pencegahan, pemadaman dan pemulihan membutuhkan kerja bersama pemerintah, aparat, dunia usaha, relawan serta masyarakat.
Ia juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi kemarau dan menjaga kesehatan akibat memburuknya kualitas udara. ( Rif)













