Iklan DPRD

Rupiah Anjlok, Wajar Bila Primus Nyuruh Gubernur BI Mundur

OPINI -: Rupiah mau anjlok berapa pun, presiden santai saja. Tidak dengan anggota DPR RI, Primus Yustisio, ia malah minta Gubernur BI, mundur. Anggota Fraksi PAN, berani juga. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Rupiah sekarang sudah seperti peserta lomba panjat pinang yang salah arah. Bukannya naik, malah meluncur turun mendekati Rp18 ribu per dolar sambil pemerintah berdiri di bawah teriak, “Tenang, ini hanya musiman!” Astaga. Negeri ini memang punya bakat luar biasa dalam mengubah alarm kebakaran menjadi musik pengantar tidur. Ketika rakyat mulai waswas lihat kurs dolar melonjak kayak harga kopi di bandara, para pejabat malah tampil teduh seperti guru BK yang bilang, “anaknya cuma butuh perhatian.”

Di tengah kekacauan itu, muncullah Primus Yustisio dengan kalimat yang bunyinya seperti tamparan pakai wajan penggorengan: “Sudah saatnya mundur saja Pak.” Jujur saja, publik langsung merasa ada yang mewakili isi grup WA keluarga. Sebab rakyat sudah terlalu sering disuguhi narasi “fundamental kuat” sampai rasanya seperti iklan odol. Mau rupiah megap-megap, IHSG jungkir balik, investor asing kabur sambil bawa koper dolar, jawabannya tetap sama, ekonomi kita kuat. Kuat dari mana? Kuat bikin rakyat bingung mungkin.

Perry Warjiyo tampil penuh keyakinan menjelaskan, pelemahan rupiah ini cuma efek musiman. Musiman katanya. Seolah-olah dolar naik itu kayak musim durian atau musim kawin. Katanya nanti Juli-Agustus rupiah bakal menguat lagi. Janji ini dikasih stabilo merah, wak! Hebat sekali prediksinya. Hampir seperti cenayang ekonomi yang habis ngopi di warung sambil baca kalender Jawa.

Padahal di luar gedung rapat, pasar sudah kayak arena gladiator. IHSG ambruk seperti lift tua di kantor kelurahan. Investor asing hengkang pelan-pelan sambil melambaikan tangan, “dadah ekonomi penuh optimisme.” Cadangan devisa dipakai terus buat nahan rupiah yang sudah oleng seperti motor matik dipakai balapan di jalan berlubang. Tapi publik diminta jangan panik. Jangan khawatir. Jangan gaduh. Negara ini memang lucu. Kadang yang dianggap ancaman bukan krisis ekonomi, tapi rakyat yang mulai banyak bertanya.

Lalu muncullah mantra paling sakral dalam sejarah komunikasi politik modern, “rakyat desa tidak pakai dolar.” Kalimat dari Prabowo Subianto ini langsung berubah jadi meme nasional lebih cepat dari mie instan matang. Betul, rakyat desa memang tidak belanja pakai dolar. Tapi pupuk impor pakai dolar. Gandum pakai dolar. Kedelai pakai dolar. Utang negara juga nyengir pakai dolar. Kalau kurs naik, harga barang ikut salto. Emak-emak di pasar mulai memandang bawang merah seperti emas batangan.

Yang paling spektakuler tentu pasukan komunikasi pemerintah. Mereka bekerja siang malam seperti admin pinjol legal. Semua harus terlihat aman. Pangan aman. Energi aman. Fiskal aman. Tinggal tunggu ada konferensi pers bilang, “rupiah hanya sedang healing.” Ini bukan lagi manajemen krisis. Ini stand-up comedy APBN. Ketika fakta ekonomi merah menyala seperti lampu diskotek, narasi malah dipoles seperti brosur perumahan syariah.

Utang negara mendekati Rp10.000 triliun, tapi pembahasannya dibuat serileks obrolan bapak-bapak mancing. Beban bunga utang sudah ratusan triliun, namun publik diminta fokus pada optimisme. Waduh. Ini seperti orang rumahnya kebakaran tapi sibuk presentasi bahwa cat temboknya tahan panas.

Maka wajar kalau Primus ngomong keras. Sebab rakyat mulai capek melihat ekonomi diperlakukan seperti sinetron ijazah yang episodenya tidak tamat-tamat. Rupiah jatuh dibilang musiman. Harga naik dibilang normal. Investor kabur dibilang rebalancing global. Lama-lama kalau listrik padam nasional mungkin akan disebut “penyesuaian pencahayaan.”

Rakyat sekarang cuma bisa menatap layar kurs dolar sambil tertawa getir. Karena di republik ini, kadang humor paling lucu justru datang dari konferensi pers ekonomi.

Foto Ai hanya iliustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan DPRD