SANGGAU – Sekawanbaru.com – Bupati Sanggau Yohanes Ontot resmi membuka Festival Budaya Paradje Pesaka Negeri Sanggau ke-18 di halaman Istana Surya Negara Sanggau, rabu ( 07/10).
Festival tersebut menjadi ruang pelestarian budaya Melayu sekaligus momentum mempererat silaturahmi dan kerukunan masyarakat di Kabupaten Sanggau.
Kegiatan turut dihadiri Ketua Umum Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) Brigjen Pol. (Purn.) Dr. H. A.A. Mapparessa, Ketua DPRD Kalbar Aloysius dan anggota, Kepala Dinas Pariwisata Kalbar Sugeng Hariadi, Kepala BNNP Kalbar Brigjen Pol. Totok Lisdiarto, para raja se-Kalbar, Wakil Bupati Sanggau, Forkopimda Sanggau, Ketua dan anggota DPRD Sanggau, paguyuban, tokoh agama, tokoh masyarakat serta undangan lainnya.
Usai membuka kegiatan, Bupati Sanggau Yohanes Ontot menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Festival Budaya Paradje Pesaka Negeri XVIII.
Menurutnya, festival budaya menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya daerah agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus. Pelestarian budaya, kata dia, membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda.
Selain menjaga tradisi, festival tersebut juga menjadi ruang memperkuat persaudaraan dan kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Sanggau.
“Budaya merupakan identitas kita. Karena itu, harus terus kita jaga dan lestarikan, sehingga generasi berikutnya tetap mengenal dan memahami nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur,” ujar Yohanes.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kebersamaan dan saling menghormati.
“Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin terus memperkuat kerukunan. Sanggau adalah daerah yang masyarakatnya beragam, sehingga kebersamaan dan saling menghargai harus terus kita rawat,” katanya.
Yohanes berharap Festival Budaya Paradje Pesaka Negeri Sanggau dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan sebagai bagian dari upaya menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat persatuan masyarakat.
“Terima kasih sekali lagi, selamat dan sukses untuk Festival Budaya Paradje Pesaka Negeri Sanggau ke-18. Selamat dan sukses,” tutupnya.
Paradje Jadi Momentum Introspeksi
Sementara itu, Pangeran Ratu Surya Negara H. Gusti Arman menjelaskan, Faradje’ memiliki filosofi sebagai ikhtiar untuk melakukan pembersihan negeri dari mara bahaya, malapetaka dan sifat-sifat buruk yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.
Menurutnya, Faradje’ tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan adat dan budaya, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi, mempererat persaudaraan serta memohon perlindungan dan keberkahan dari Allah SWT.
Dalam konteks kehidupan masyarakat Sanggau yang majemuk, Raja Sanggau menegaskan bahwa keberadaan setiap warga memiliki tempat yang sama dalam kehidupan daerah.
“Siapa pun yang lahir di Sanggau, tumbuh di Sanggau, mencari kehidupan di Sanggau, membangun keluarga di Sanggau, maka ia adalah bagian dari masyarakat Sanggau,” ujarnya.
Ia menegaskan, masyarakat Dayak, Melayu dan berbagai suku lainnya merupakan bagian dari sejarah serta kehidupan Kabupaten Sanggau.
Karena itu, persatuan dan sikap saling menghormati harus terus dijaga. Keberagaman masyarakat Sanggau, menurutnya, merupakan bagian dari perjalanan daerah yang perlu dirawat bersama melalui semangat persaudaraan dan kebersamaan.
Festival Budaya Paradje Pesaka Negeri XVIII pun diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk merawat budaya, memperkuat silaturahmi dan menjaga keharmonisan masyarakat Sanggau. ( Gus/*)














