Opini – Sekawanbaru.com- Tulisan ini terinspirasi dari seorang petani sukses menjebak ratusan kumbang tanduk di kebun sawit. Alat perangkapnya, keren. Lalu, muncul ide menulis, filsafat kumbang tanduk. Ini terminologi suka-suka saya saja. Simak narasinya!
Di suatu negeri tropis yang sangat hijau, tempat sawit tumbuh lebih cepat dari demokrasi, bersemayamlah seekor makhluk kecil namun penuh ambisi, Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros). Jangan remehkan tubuhnya yang cuma segede jempol kaki, karena ia bisa mengacaukan rencana strategis Menteri Pertanian dan membuat para pemilik kebun sawit panik lebih dari inflasi.
Kumbang ini bukan sekadar hama. Ia reinkarnasi kapitalisme dalam bentuk serangga, menyusup perlahan dari batang ke batang, dari tunas ke tunas. Ia tak menggigit manusia, tapi menggigit pundi-pundi ekonomi, dengan mulut kecil dan filosofi besar, “Aku makan, maka aku ada.”
Negeri ini telah naik tahta sebagai Raja Sawit Sejagat, sebuah gelar prestisius yang bahkan tidak pernah dibahas di pidato kenegaraan karena terlalu “biasa”. Semua bertepuk tangan saat ekspor sawit menembus triliunan rupiah, tapi lupa bahwa di balik daun-daun hijau itu, ada drama biologi tingkat dewa, seekor kumbang bertanduk sedang menyusun kudeta terhadap pohon kelapa sawit yang masih puber.
Kumbang tanduk tidak datang dari luar negeri. Ia bukan penjajah. Ia adalah anak kandung dari sistem ekologis yang dikhianati oleh manusia itu sendiri. Ketika petani membakar, membabat, dan menumpuk tandan sawit seenak jidat, kumbang pun berkata dalam bahasa latin yang indah, “Ah, inilah surgaku.”
Tanda serangan kumbang ini adalah huruf V terbalik pada pelepah. Sangat filosofis. Tanda “V” itu, jika dilihat dari sudut pandang metafisik, melambangkan visi pembangunan yang tumbang. Negara boleh bikin cetak biru, tapi kumbang bikin cetak bolong.
Lalu, para elite berembuk, “Mari kita lawan kumbang dengan jamur dan racun!” Tapi kumbang hanya tertawa kecil sambil ngopi di tumpukan tandan kosong. “Silakan. Racun kalian adalah kopi liberikaku,” katanya sambil larut ke dalam kontemplasi, “Siapa sebenarnya hama, aku, atau kalian yang merusak hutan untuk sawit?”
Kumbang tanduk adalah seniman satir dalam dunia biologi. Ia tidak menyerang buah sawit yang matang, karena ia tahu, biarkan manusia menikmati hasil sebelum ia merusak akar dari dalam. Mirip koruptor yang tersenyum saat sidang, kumbang ini pun elegan dalam kehancuran. Tak perlu demo, tak perlu orasi, cukup lubangi titik tumbuh dan tunggu, sawit akan gugur sendiri.
Jangan salah, kumbang jantan bertanduk panjang. Simbol kejantanan yang absurd, karena makin panjang tanduknya, makin ia disalahkan atas kerusakan. Sebuah kritik terselubung terhadap toxic masculinity, mungkin?
Para petani berdiskusi panjang lebar. Ada yang tabur garam, ada yang tebar jamur, ada juga yang tebar harapan. Tapi kumbang tetap eksis. Karena dalam hati kecilnya, ia tahu, “Selama ada sawit, aku hidup. Selama manusia rakus, aku beranak pinak.”
So, mungkin, saatnya kita belajar dari kumbang. Ia tak punya konferensi pers, tak pernah bikin UU, tapi berhasil membuat para pemilik lahan tak bisa tidur nyenyak. Itu baru power.
Di balik satu helai pelepah sawit yang melintir, tersimpan pesan, bahwa sekuat apa pun negara, jika titik tumbuhnya diserang dari dalam, maka semua visi akan jadi V terbalik.
Maka jangan buru-buru menyebut kumbang ini hama. Karena dalam logika ekologi yang jujur,
dialah cermin dari sistem yang sudah terlalu banyak makan pestisida dan janji.
Namun, kumbang tanduk tetap bertahan. Karena ia tahu, selama manusia masih serakah, ia masih punya tempat tinggal. Selama pohon sawit terus ditanam tanpa jeda, tanpa pikir panjang soal biodiversitas, maka tanduk kecilnya akan terus menandai kebodohan kolektif kita.
Seruput terakhir kopi tanpa gula dulu, wak. Sebelum kita mengutuk si kumbang, mari bercermin. Jangan-jangan, siapa sebenarnya hama di sini?
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar