162 Siswa dan Guru di Ketapang Diduga Keracunan Menu MBG

Oplus_131072

KETAPANG – Kasus dugaan keracunan menu Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Ketapang. Kali ini, peristiwa tersebut menimpa ratusan siswa dan guru di Kecamatan Marau, Kamis (5/2/2026) pagi.

Korban berasal dari tiga sekolah, yakni SMP Negeri 1 Marau, SMA Negeri 1 Marau, dan SMK Negeri 1 Marau. Para siswa dan guru diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi menu MBG yang dibagikan di sekolah masing-masing.

Sebagian besar korban langsung dilarikan ke sejumlah puskesmas di wilayah setempat untuk mendapatkan penanganan medis. Hingga Kamis sore, sejumlah korban dilaporkan masih menjalani perawatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, dr. Feria Kowira, mengatakan berdasarkan data sementara hingga pukul 17.00 WIB, jumlah korban keracunan mencapai 162 orang.

“Data terbaru kita saat ini pukul 17.00 WIB, total korban ada 162 orang, terdiri dari siswa dan guru di Kecamatan Marau,” ujar dr. Feria saat dikonfirmasi, Kamis sore.

Ia menjelaskan, laporan kejadian keracunan massal diterima pihaknya sekitar pukul 10.00 WIB. Para korban mengeluhkan berbagai gejala setelah menyantap hidangan MBG, mulai dari mual, muntah, pusing, sakit perut, hingga diare.

“Saat dibawa ke puskesmas sekitar pukul 10.00 pagi, kondisinya muntah-muntah, pusing, dan beberapa mengalami diare. Secara umum mereka mengalami dehidrasi,” jelasnya.

Untuk menangani kejadian tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang langsung mengerahkan lima tim medis yang terdiri dari petugas Dinkes Ketapang, Puskesmas Marau, Puskesmas Jelai Hulu, Puskesmas Suka Mulia, serta Puskesmas Marau.

“Total ada lima tim yang kami turunkan untuk penanganan korban,” ungkap dr. Feria.

Selain penanganan medis, pihak Dinas Kesehatan juga telah mengambil sampel makanan MBG serta sampel muntahan korban untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium guna memastikan penyebab keracunan.

“Sampel makanan dan muntah sudah diambil untuk diuji di Pontianak. Sampel muntah diperiksa di Laboratorium Kesehatan Provinsi, sedangkan sampel makanan dikirim ke Balai POM Kalimantan Barat,” pungkasnya. ( Rizqi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *