Satu Pena Kalbar – Damai itu indah. Siapa pun ingin hidup damai. Tahu kah ente wak, sebelum ada damai itu, ada perang. Kemerdekaan yang kita rasakan saat ini, karena ada perang besar sebelumnya. Saya mau bahas soal damai, tapi bukan damai yang pakai amplop ya. Siapkan kopi tanpa gulanya, wak!
Setiap kali Agustus datang, dunia bukan cuma ingat lomba balap karung atau diskon kemerdekaan. Ia juga, dengan gemetar dan jijik, mengingat dua ledakan paling absurd sepanjang sejarah: bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Bukan sekadar dua kota yang hilang dari peta, tapi dua titik balik paling liar dalam geopolitik dunia. Dunia pada 6 dan 9 Agustus 1945 seperti ditebas petir dari langit, hanya saja, petirnya buatan manusia, dan lebih panas dari matahari.
Bayangkan, wak! Hiroshima, 6 Agustus, pukul 08.15 pagi. Sebuah pesawat bernama Enola Gay menjatuhkan bom atom “Little Boy”, dan dalam sekejap, 140.000 manusia hilang dari bumi. Tiga hari kemudian, giliran Nagasaki mencicipi “Fat Man”, bom kedua, mengakhiri hidup 74.000 orang. Jepang pun langsung pingsan geopolitik. 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito menyerah total. Bukan dengan pedang, tapi dengan suara radio yang pelan dan getir.
Tapi… di tengah kehancuran itu, justru sesuatu yang gila terjadi. Dunia tak sekadar bangkit, ia berubah wujud. Koloni-koloni yang sebelumnya dijajah Jepang dan Eropa tiba-tiba menemukan diri mereka tanpa penjajah. Seperti rumah-rumah kosong yang ditinggal kabur pemiliknya. Apa yang dilakukan oleh rakyat di rumah-rumah kosong itu? Tentu saja, pasang bendera, bikin negara.
Indonesia, hanya dua hari setelah Jepang menyerah, langsung mengumumkan kemerdekaan. Soekarno dan Hatta tahu momen emas ini cuma datang sekali seumur hidup. Maka 17 Agustus 1945, berdirilah Republik Indonesia, lahir bukan dari ruang bersalin, tapi dari kehancuran Hiroshima. Vietnam juga tak mau ketinggalan, 2 September 1945, Ho Chi Minh berdiri gagah di Hanoi, memproklamirkan kemerdekaan. India menyusul pada 15 Agustus 1947. Pakistan, lahir bersamaan. Korea? Langsung dibelah dua oleh AS dan Uni Soviet, karena ternyata negara juga bisa diciptakan pakai spidol di atas peta.
Bom atom, secara teknis, memang tidak melahirkan negara. Ia tidak membawa akta kelahiran dan lagu kebangsaan. Tapi secara simbolik dan geopolitik, ia ibarat dewa penghancur yang juga bertugas sebagai bidan. Karena pengeboman itu:
• Mempercepat kekalahan Jepang, sang penjajah Asia.
• Melemahkan negara-negara kolonialis Eropa yang sudah megap-megap pascaperang.
• Membuka ruang kosong kekuasaan di Asia, sebuah kekosongan yang cepat-cepat diisi oleh proklamator dan pemberontak.
• Mengubah tatanan dunia dari sistem kekaisaran dan kolonialisme ke era negara-bangsa dan PBB.
Sejarah, tidak selalu ditulis dengan pena. Kadang ia ditulis dengan ledakan 4000 derajat Celsius. Filsafat pun ikut jungkir balik. Damai lahir bukan dari cinta, tapi dari trauma. Perang tidak sekadar merusak kota, tapi juga menghancurkan sistem lama, agar yang baru bisa tumbuh. Dunia butuh hancur berkeping-keping agar bisa disatukan kembali dengan cara yang baru.
Maka di Agustus ini, ketika engkau melihat bendera berkibar, ingatlah, ada awan jamur raksasa di atas Jepang yang secara tidak langsung menjadi bidan untuk kelahiran Indonesia, Vietnam, India, Pakistan, dan Korea. Dunia meledak, dan dari reruntuhannya, bangsa-bangsa berdiri.
Sungguh, tak ada yang lebih absurd dari fakta bahwa bom pemusnah massal bisa menjadi lonceng kelahiran kemerdekaan. Tapi begitulah manusia, belajar dari kehancuran, dan entah kenapa, tetap mengulanginya lagi.
“Jadi, jangan buru-buru sinis memandang perang, atau mencibir mereka yang suka protes dan melontarkan kritik brutal pada pemerintah, karena siapa tahu, di balik dentuman meriam, gelegar bom, dan suara lantang dari jalanan, semesta sedang membuka jalan menuju tatanan yang lebih damai. Atau… setidaknya, menuju dunia yang lebih rapi dalam menghitung mayat.”
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar